Archive for June, 2007

Bromo

Thursday, June 21st, 2007

Probolinggo 2006

Lereng itu bernama Tengger.

Sejauh mata memandang , hamparan pohon pinus dan casuarina menyegarkan mata.

Nyanyian burung tempua  bagai senandung orkestra mengiringi sang diva.

Udara yang masuk paru-paru bagai bak sungai Gangga yang  membasahi Kalahari atau

Sahara

, hilanglah dahaga berganti sejuk terasa.

Kami –berenam – sampai jam tujuh pagi, masih pagi sekali, dengan perut setengah terisi, aroma tubuh setengah wangi, air muka tak lagi berseri, bulu-bulu kaki terkontaminasi oleh debu polusi. Memang kami tidak menggunakan jasa agen wisata, biar lebih leluasa menentukan agenda daripada mengikuti acara dari pemandu wisata.

Ahh…cukup lelah juga ternyata! kami sampai di penginapan yang kami sewa, lalu istirahat sejenak untuk segarkan mata, menerawang indah panorama dari balik jendela, setelah cukup lama melewati irama jalan yang banyak berbatu, di beberapa tempat sangat berliku, sampai-sampai mendirikan bulu kudukku, huuuuu.

Setelah mandi dan sarapan kami duduk di bangku-bangku, di belakang pondokan di dekat tungku, menatap langit di selatan yang sudah mulai membiru, sebiru warna darahku. Aroma ilalang dan pohon pakis berhembus kadang silih berganti kadang beradu. Beberapa rombongan datang mengisi pondokan di kanan kiri jalan, ada beberapa yang cukup rupawan. Setelah siang selepas dzuhur saya ke kamar pejamkan mata, sedikit usaha tuk pulihkan stamina, nyenyak juga rupanya.

Saat terbangun, matahari mulai menggelinding kearah barat, langit memerah bagai hamparan daun foinciana. Warna-warni cahaya dari balik pegunungan Semeru terlalu indah untuk kami lewatkan, jingga di sisi barat, agak memudar di selatan-utara, semakin kelabu di arah timur. Kamipun tidak menyia-nyiakan kesempatan yang jarang kami temui bila sedang berada di Kota., Sebentar lagi langit akan menjadi gelap, lalu beranjak malam.

Selepas maghrib sebelum isya, Maya anak perempuan si pemilik rumah membuatkan kami kopi Liberika (lebih nikmat dari kopi Arabika atupun Robusta) yang kami bawa, walaupun saya bukan pecandu kopi juga bukan pecandu Cerutu, sayapun larut dalam harumnya tembakau dan pahitnya kopi Liberika, sekedar menghangatkan tubuh serta suasana. Sementara para pria memainkan kartu domino, para wanita sibuk mengisi baterai handphone kita semua, mengecas baterai-baterai kamera, sambil sesekali datang menggoda. Sementara suara Miller; Buhler; Carlos Marin, pemilik vokal bariton dan berasal dari Spanyol; dan Sebastien Izambard, vokalis pop dari Prancis (Il Divo) bersautan di dalam dock speaker yang saya bawa, sesekali suara Anggun dan Pasha (grup band Ungu) ikut menyela.

Mendekati jam duabelas tengah malam gemuruh suara manusia bagai gelombang dilaut yang ditiup angin berkekuatan kencang, desar-desir, riuh rendah, sorak sorai dan suara bebunyian berpadu menjadi satu harmoni bagai orkestra tanpa konduktor. Ternyata suara ramai itu menandakan tepat pergantian tahun. Semua ingin menjadi bagian dari perhelatan itu, tak terkecuali saya dan teman-teman saya. Kami merenung barang sejenak, diantara suara terompet dan petasan, diantara aroma daging bakar dan arang, diantara cahaya kembang api dan bintang, diantara suara nyanyian dan denting-denting gitar urakan. Kamipun menikmati keramaian yang memang sengaja kami tunggu-tunggu.

Sekitar pukul setengah 4 dini hari, JIP yang akan mengantar kami ke’atas’menjemput. Kami akan menyaksikan matahari terbit disana, yang katanya sih paling ditunggu-tunggu bila berkunjung keBromo,yang keindahannya memesona siapa saja yang melihatnya. Kamipun tidak melewatkan kesempatan yang langka itu. Beruntung kami bisa menyaksikan peristiwa yang banyak dinanti ribuan orang itu. ‘’Waw! sangat menaknukjubkan,sungguh sempurna ciptaan Tuhan yang satu ini’’.Saya memuji tiada henti.

Menjelang siang kami menaiki kawah Bromo.Bau belerang menyambut kedatangan kami diatas.Bebatuan dan pasir menghampar disekitar dataran, yang jika dilihat dari atas, bagai gurun yang tiada bertepi. Kami bisa saja menggunakan kuda untuk menuju keatas, yang banyak disediakan masyarakat Tengger sekitar, tinggal memberi beberapa rupiah sebagai imbalan, tapi rasanya kurang menantang jika tidak ditaklukan dengan kaki sendiri.

Wisata alam dengan obyek utama kawah Gunung Bromo serta perpaduan matahari terbit di ufuk timur, suatu sensasi tersendiri. Wisatawan memasuki suatu ritme perjalanan yang mengasyikkan di waktu dini hari dengan melewati lautan pasir yang luas dan menaiki tangga menuju puncak. Salah satu ritual budaya yang populer berkaitan dengan Gunung Bromo adalah upacara Kesada. Asal mula upacara Yadnya Kesada terjadi masa dinasti Brawijaya dari Kerajaan Majapahit. Sang permaisuri yang dikarunia anak perempuan bernama Roro Anteng setelah dewasa dijodohkan dengan Joko Seger, pemuda dari kasta Brahma. Saat Kerajaan Majapahit mengalami kemunduran dengan masuknya agama Islam di Jawa, punggawa kerajaan dan kerabatnya pindah ke wilayah Timur dan pegunungan Tengger termasuk Roro Anteng dan Joko Seger. Keduanya membangun pemukiman dan memerintah di kawasan Tengger namun tidak dikarunia keturunan.
Mereka naik ke puncak Bromo dan bersemedi agar diberikan keturunan dan akhirnya terdengar suara gaib bahwa semedi mereka terkabul dengan syarat bila sudah mendapatkan keturunan maka anak bungsu harus di korbankan ke kawah Gunung Bromo. Roro Anteng dan Joko Seger menyanggupinya dan mereka mendapat 25 orang putra dan putri. Namun mereka ternyata ingkar janji sehingga Dewa menjadi marah dan mengancam akan menimpakan mala petaka. Prahara datang, kawah Bromo menyemburkan api dan anak bungsu bernama Kesuma turut hilang dan terdengar suara ghaib agar setiap bulan Kesada pada hari ke 14 mengadakan sesaji kepada Yang Widi di kawah Gunung Bromo. Kebiasaan ini diakui secara turun temurun oleh masyarakat Tengger dan setiap tahun di adakan upacara ini di Poten Lautan pasir dan Kawah Gunung Bromo
, mereka yang mayoritas beragama Hindu, punya kebiasaan memakai sarung yang diikatkan dikepala dan menutupi sebagian muka. Penghasilan  mereka selain dari cocok tanam, tentu saja dari pariwisata.*

Saya kembali ke

Jakarta

seorang diri, Sementara teman serombongan saya kuliah di

kota

Malang

dan

Surabaya

. Widya, Nana, Ari, Wahyu, Diaz, kapan-kapan kita piknik lagi ya? Betapa kalian masih tersimpan dalam hati saya.

                                                            * * *