Archive for July, 2007

Tough a girl

Thursday, July 26th, 2007

Frau Zah

Her name was Frau Zah. It seemingly taken from Javanese or perhaps Arabic language. But exactly that’s name bore from her father’s manager Mr Otto Koster when little cute Frau Zah was born at the Hospital in a suburb western of

Jakarta

in the end of seventies. Frau Zah Ariana was her complete name. The latter-days, her hair was wavy and creeping like Ivy about her shoulder. Her complexion was tawny rather then ivory colour. Her nose rather sharp and pointed, a trifle better against nose belonging to Monalisa’s picture. Her eyes, with her blue soft-lens, lighten up as an azure jade. But its vision was hazy and faded but any glasses or soft-lenses. Her lips was slight and flexile as a fresh grape, but its upper lip slight curled up, it’s colour somewhat bluish but any lipsticks, probably because of effect of nicotine or because of convection; pressure and weather difference. A beautiful firm bony face. It needs dentist reseach to determined either her upper jaws was slight inclined forward or her lower jaws was tend inward. But her cheering smile inexorably sweet. Her brows was classic. Her poor dear father was from Kuta and her dear mother was from Yogya. Her mind was ordinary, a good rudiment to get the best education at the

personage

 

University

on the soil of Java by seeding selection. Her High-school’s certEd scores filled with nine, only two the

eight score

inside it.

About three months She had been living in

Toscana

,

Italy

.

Western San Marino

city and southern of Roma. She followed Roberto Ivola her husband; native of this Country as a consequence, country of The Pisa. They were adjoined by auntie Sarah, aunt of  Frauzah who had been living there for so many years before Frauzah. Firstly, aunt Sarah had told Ivola much about

Indonesia

, about it’s nice and friendly peoples, and absoloutly about Frauzah, her dear niece. Then at the some winter holiday Ivola came to

Indonesia

met Frauzah in Yoygakarta after He had left his fortnight vacation at the Godess

Island

,–

Bali

. In order to respect aunt Sarah, however Frauzah met Ivola at the ballroom of a famous hotel in Yogya. Then Frauzah and Ivola driving along around the lovely city by taxi. Confiding their pitiable secrets. They were so daunted for only hours. Showing good demenour each other. Frauzah was telling her bashful wonted when she was child till teenager, wetted her  pants till she was about fourteen, so she had always refused joined camping or any outbond programs. About her stupidity at the morning when she woke up and lost her glasses. About her indolent manner of taking shower when she plunged to the story of the novels, especially classical. Ivola also told about his unwillingness to play football, a contradiction; in wich his friends from his country were longed to do. About his hobby mimicking other peoples continuance cynically, and also about his stupid memory introgated by Australian police at a hotel in that country because his face was quite similar to Osamah bin Laden especially when his beard and whisker was long and untidy. Frauzah’s English was better then Ivola who spoke Pidgin; plain english language. Educated people talked to educated people. That’s meeting was the beginning of their household tale. Frauzah actually never imagine she would live in

Europe

and got an Italian husband.

Frauzah childhood was simply, natural, unadorned with any luxurious, but even dreadful if looks from such well-off gentries sight. Her mother’s name was Mrs Aminah, her father was Mr Ibrahim Amantha. Mrs Aminah decided ceased working after marrying Amantha. Frauzah childhood; afore school period; spent at the capital city and the suburb. Nomadic like gypsies, from

Jakarta

,

Bogor

, Tangerang, Bekasi, and sometime in Purwakarta.

Jakarta

and Bekasi in wich remain quiet and easy, Tangerang and

Bogor

in wich still splendour, Purwakarta and Cikarang wich yet became city of

Industry

. Frauzah father was a surveyor of a landscape projects or didn’t know whether. Frauzah remained lingering indistinctly about her beautiful childhood memories. Bathed by her dear mama, kissed by her poor dear papa, waving her hand by the fence when her poor dear papa went by. Calling her on a phone when luncheon time had come, and brought knick-knacks like Barbie-doll and Donald-duck such a doll. Lingering still her happiness when she was playing with her childhood friends whom their names she could not recall. Her friends which theirs picture become faded and moldy, her friends who might be became personage and popular artist, or might be chemist; expert of chemistry. Lovelily adored by neighbourhood aunties, who forced her to spelled words wich using RRR character and then they laughed so merrily, as if the words call forth that laugh, must have been utterly and entirely ludicrous. They were fond to taking cared of her. Frauzah surely realized that thus memories was not mere dream. A lovely childhood at the early eighties wich inclined natural with particular activity.

Yogya 1995

Thursday, July 26th, 2007

Pwt-Yogya, Minggu akhir Desember 1995

Kami; Saya, Iwan,Wahyu(Anton), dan dan dua teman dari SMU lain; saya sudah lupa namanya, pergi di penghujung tahun ke Jokja. Kami bermaksud merayakan malam tahun baru disana. Kami tergoda oleh pengalaman pertama kami masing-masing ke

kota

itu sebelumnya. Buat kami ke Jokja adalah liburan paling ekonomis sekaligus romantis. Ekonomis karena hanya duaribu seratus rupiah waktu itu dari

kota

kami; Purwokerto; menggunakan kereta api kelas ekonomi Purbaya. Romantis karena setiap ke Jokja selalu dihiasi kenangan manis. Pergi ke Jokja laksana kita menengok

Alhambra

. Naik kereta api Purbaya; kereta api kelas ekonomi jurusan Purwokerto-Surabaya; bagaikan menaiki Train a Grande Vitesse(TGV); Kereta api di Swiss untuk wisata. Walaupun melaju endut-endutan; terkadang pelan; tapi pemandangannya tetap saja menawan.

Minggu pagi, hari itu langit cerah, lebih cerah sedikit dari perasaanku. Setelah membeli karcis saya masuk ke ruang tunggu di dalam stasiun, disana Iwan sudah menunggu dengan penampilan bak Keanu Reaves, memakai kacamata hitam mengkilap serta rambut dipotong cepak, dengan tas ransel serta celana pendek merek Alpine, memakai kaos oblong putih bergambar mulut dan sweater warna krem. Begitu pe-denya dia menatap kearah langit seolah tidak melihat kedatanganku, menggerak-gerakkan ujung sepatunya sambil mengepulkan asap Marlboro. Jam di stasiun menunjukkan pukul sembilan kurang sepuluh menit, sedangkan di jam tanganku sudah pas jam sembilan, padahal jam tanganku sudah dicocokkan dengan waktu berita radio BBC London. Di papan informasi kereta Purbaya berangkat pukul 9.20, mau mengikuti jam yang mana entahlah, tapi saya tetap saja lebih mempercayai jam tanganku.

“Wahyu mana?” tanyaku pada Iwan sambil berjabat tangan ala rapper Amerika.

“wah! Keren!” jawab Iwan sambil melihat penampilanku dari ujung rambut sampai ujung kaki. “Curt Cobain! Curt Cobain!” lanjutnya yang malah mengabaikan pertanyaanku. Sebenarnya aku kurang suka disamakan dengan Curt Cobain atau siapapun, karena orang idealis biasanya tidak suka disamakan dengan orang paling ngetop sedunia sekalipun. Tapi mungkin begitulah gambaran penampilanku. Aku memakai celana blue jeans longgar dan robek sedikit dibawah lutut. Kaosku hitam juga longgar dengan tulisan RHTYM di depan dada. Juga dengan kacamata hitam serta sedikit aksesoris di tangan, menenteng gitar yang masih di berada di dalam sarungnya.

“Wahyu mana?” tanyaku mengulangi. “Lagi nungguin temennya di deket patung kuda”. Di depan stasiun terdapat taman dengan patung kuda. Rumah wahyu dan dua temannya sekitar satu kilometer dari patung kuda.

Saya dan Iwan ngobrol tentang rencana nanti setelah sampai di Jokja, mau tidur di stasiun atau di alun-alun, di rumah Pakde Hanung atau di emper masjid Agung. “Gimana nanti aja” kataku.

Lima

menit kemudian Wahyu dan dua temannya datang bergabung lalu bersalaman dan berkenalan. Tapi tetap saja saya lupa nama kedua temannya karena saya sering memanggilnya Man. Sementara itu kereta Purbaya langsir ke jalur satu. Kami kemudian menuju gerbong terdekat mencari tempat duduk; walaupun nantinya kami lebih suka berjalan-jalan dari gerbong satu ke gerbong lainnya. Saya melihat dua cewek seumuranku di gerbong dua, yang satu manis yang satu biasa saja. Aku berbisik kepada Iwan dan Wahyu untuk berpamitan menuju kesana; ke tempat dua cewek itu duduk. “Aku kesana dulu ya” pamitku pada teman-temanku. “Ah! Selera rendahan” timpal Iwan yang juga diiyakan Wahyu dengan nada sedikit mengejek.

Saya menuju gerbong dua dimana dua cewek itu berada, sementara Iwan, Wahyu dan kedua temannya melewatinya untuk hunting ke gerbong lainnya.

“Boleh saya duduk disini?” pintaku dengan ramah dan senyum rendah hati. “Oh! tentu saja” jawab mereka bersautan dengan senyum lumayan manis dan raut muka kelihatan senang. Aku duduk di bangku kosong pas di depan mereka, berhadap-hadapan, lalu melanjutkan pembicaraan. Di Purwokerto anak sekolah atau mahasiswa banyak menggunakan bahasa Indonesia diantara mereka, mungkin karena banyak pelajar dari luar

kota

atau memang mereka yang biasa menggunakannya dalam keluarga. Kami juga sering menggunakan Bahasa Indonesia karena Iwan pelajar asal

Jakarta

. Dalam etika dianjurkan untuk berbicara menggunakan bahasa yang bisa dimengerti bersama.

“Oh iya, Adam” kataku sambil menjulurkan tangan memperkenalkan. “Ifa”, “Dona” sambut mereka sambil menerima jabat tangan dilanjutkan dengan obrolan basa-basi. Dari cerita sekolah sampai ke hobi. Juga tentang kesukaan mereka pada

kota

Jokja, bagi mereka

kota

Jokja seperti Aranjuez atau Venecia walaupun mereka belum pernah kesana. Tampang Ifa seperti Sinied O connor dengan rambut sedikit bergelombang, dia memakai celana katun tiga perempat warna cokelat dengan sweater merah muda. Sementara Dona agak tomboy dengan rambut dipotong model Demi Moore kala itu. Dona juga memakai celana hampir sama dengan Ifa, hanya saja Dona memakai sweater warna krem dengan resleting terbuka. Dadanya memang lebih menonjol daripada Ifa. Tapi dalam hati saya, saya lebih memilih Ifa yang berkesan anggun dan sederhana walaupun senyumnya tetap saja lebih manis dan lucu. Walaupun Dona lebih sintal dan menggoda. Entah mereka sadar atau tidak saya lebih banya berbicara ke arah Ifa walaupun Dona sering ikut menimpali.

Kereta melaju perlahan, sementara para pedagang asongan tetap berseliweran menawarkan jajanan, tetapi mereka tetap saja sopan. Penumpang kereta lumayan ramai, walaupun ada satu dua korsi yang belum terisi. Kebanyakan dari mereka para remaja, hanya beberapa saja penumpang dewasa dan orang tua. Mungkin banyak yang menikmati libur tahun baru yang kebetulan jatuh pada hari Senin. Sambil terus melanjutkan obrolan dan candaan sesekali kami melihat pemandangan diluar melalui jendela kaca. Pemandangan rumah-rumah dan sawah di pinggiran sungai Logawa. Sungai yang masih bening, tanaman padi yang hijau dan kuning, para penambang pasir dan petani yang tidak menghiraukan hari libur, bukit-bukit yang berwarna hijau dan biru, jalan raya yang berkelok dan elok. Terowongan kereta yang terkadang menambah suasana romantis.

Memasuki terowongan pertama Ifa berteriak manis dan manja, Sayapun meraba-raba seperti orang buta dengan maksud bercanda. “Kamu dimana, kamu dimana? hahaha” kami lalu tertawa. Sementara beberapa pemuda yang lain berteriak minta tolong dari atas gerbong, kami tahu kalau itu juga bercanda. Ah! Menyenangkan sekali, serasa kereta itu telah kami sewa menjadi milik kita bersama.

Setelah terowongan pertama Iwan, Wahyu dan kedua temannya datang bergabung. Saya rasa mereka tidak menemukan target; cewek seumuran untuk teman ngobrol dan bercanda; yang cocok, atau mungkin mereka selalu ditolak, haha. Dengan air muka sedikit malu dan lucu mereka lalu menyapa dan memperkenalkan diri. Dimulai dari Wahyu, mereka terus saja mencari muka pada Ifa dan Dona seakan-akan mereka itu pahlawan, menceritakan kehebatan dan prestasi mereka dengan pede dan lucunya, juga dengan santainya mengada-adakan kejelekan saya, mengada-ada kalau saya tidurnya mendengkur serta suka minum anggur, serta olok-olokan lainnya; tentu saja dengan suasana canda; dan kami tahu semua. Saya cuek saja sambil membuang muka, menahan tawa menatap ke arah jendela.

“Katanya selera rendahan” smesku sambil mencibir. Merekapun bertambah malu sambil mencari-cari alibi. Ifa dan Dona ikut mentertawai. Suasanapun semakin hangat dan ramai. Untung saja bangku yang aku duduki belum terisi. Iwan dan Wahyu bergabung disebalahku di lajur kanan, semantara dua teman Wahyu di bangku di lajur kiri. Iwan dan Wahyu terus saja merayu-rayu, sementara Saya dan Ifa sesekali mengedipkan mata, seakan-akan kami sudah kenal sejak beribu tahun lalu.

Ternyata tujuan kami; sekarang ditambah Ifa dan Dona; sama, sekedar melewatkan dan merayakan malam tahun baru di Jokja. Saya menwarkan Ifa dan Dona untuk bergabung saja, Iwan dan Wahyu dengan antusias menimpali, Ifa dan Dona menyetujui. Kami semua senang. Kemudian kami berbagi sedikit makanan yang kami bawa untuk menambah keakraban. Makanan yang dibawa Wahyu paling aku sukai, lontong dan kripik kentang, Iwan membawa snack dari kacang serta molen pisang, dua teman wahyu hanya membeli wafer di pedagang asongan karena kurang persiapan.

Sampai di stasiun Kroya penumpang semakin banyak saja, korsipun penuh terisi bahkan tidak sedikit yang terpaksa berdiri, ada beberapa yang tidak kuat berdiri lalu menggelar kertas koran untuk alas duduk. Kereta bertambah kencang setelah melewati jalan yang mendaki dan berkelok. Kami kadang memejamkan mata kadang terbangun, bergantian kadang bersamaan. Sesekali naik ke atas gerbong untuk mlepas penat. Naik di atas gerbong menyenangkan sekaligus menegangkan. Menyenangkan karena seolah menjadi raja yang diusung diatas tandu, walaupun badan menjadi dekil dan berdebu. Menegangkan saat melewati terowongan. Karena harus merunduk dan tiarap mengikuti aba-aba pemuda yang berada di atas gerbong paling depan. Pernah kejadian seorang anak remaja meninggal karena tersangkut tembok terowongan saat dia kurang waspada dan lupa menghadap ke arah belakang.

Bersambung.

My Immortal

Thursday, July 5th, 2007

My Immortal;

Without merits that entitle me to a place in the blue sky,

In vain have I live in This World for so many years,

These are the events before my birth and after my death,

Who will transcible them and give the world my story….

We all envy the immortals because they are free,

But fame and fortune we cannot forget,

Where are the Minister and General of the past and the present,

Under neglected graves overgrown with weeds.

We all envy the immortals because they are free,

But our precious title we cannot forget,

In spite of rude repulse or silent pride,

Was trouble sore, ne wist well what to ween.

We all envy the immortals because they are free,

But gold and silver we cannot forget,

All our lives we save and hoard and wish for more,

When suddenly our eyes are forever closed.

My Temporary

Thursday, July 5th, 2007

Temporary life

Tuhan,

Aku tak tahu berapa lama alam raya ini sudah ada sebelum lahirku,

Dan berapa lama terus berjalan setelah matiku,

Saat kutatap langit dan bintangMu,

Akupun tak  sanggup sekedar membayangkan dimana batas langitMu,

Dan berapa banyak jumlah bintangMu,

Tuhanku,

Kau tiupkan rohku dalam raga yang berisi Akal dan hati,

Walaupun hanya untuk sepintas waktu,

Tapi aku tetap dungu akan tujuanku,

Apa untuk sekedar mencari kesenangan?

Apa cukup aku bayar dengan Ibadah dan amal baikku?

Aku mau lebih sekedar itu,

Aku terus belajar Tuhanku,

Maknai hidupku sebelum matiku.